Foto : Dinkes papua UPT ATM

Kolaborasi Indonesia-Jepang-Thailand dan Pemda Papua dalam upaya Memetakan Sistem Imun Pasien Malaria dengan Teknologi Single Cell RNA sequencing

Keerom – Peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (ITB), bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten Keerom, memulai pemetaan sistem imun pasien malaria menggunakan teknologi single-cell RNA sequencing (scRNA-seq). Kegiatan ini dilaksanakan di Puskesmas Arso Kota, Puskesmas Ywan, dan Posyandu Sawiyatami, serta diharapkan dapat menjadi pijakan ilmiah baru dalam mempercepat upaya pemberantasan malaria di Papua.

Penelitian ini tidak hanya melibatkan kolaborasi nasional, tetapi juga kerja sama lintas institusi internasional, antara lain ITB, BRIN, dan Universitas Brawijaya dari Indonesia, serta Kurume University (Jepang) dan Mahidol University (Thailand).

Kegiatan penelitian ini dipimpin oleh Ketua Peneliti, Dr. Indra Wibowo, S.Si., M.Sc., bersama tim peneliti SITH ITB yang terdiri atas Antonius Christianto, S.Si., M.Sc., D.Sc., Dr.rer.nat. I Dewa M. Kresna, dan Bayani Nur Azmani, S.Si., M.Si.. Selain itu, turut bergabung dalam konsorsium peneliti Indonesia lainnya, yaitu Dra. Rintis Noviyanti, Ph.D. dan Dr. Leily Trianty, S.Si. dari BRIN, serta Regina Putri Virgirinia, S.Si., M.Sc., D.Sc. dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Brawijaya.

Tim dosen ITB melakukan pemetaan sistem imun pasien malaria Papua menggunakan single cell RNA sequencing (scRNA?seq), teknologi yang memungkinkan pengamatan respons imun pada tingkat satu per satu sel sehingga pola kekebalan terhadap malaria dapat dipahami secara jauh lebih rinci dan spesifik. Penelitian ini dilaksanakan melalui kerja sama erat dengan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, serta jejaring layanan primer di wilayah tersebut.

Koordinasi penelitian bersama Dinas Kesehatan Papua Dokumentasi : Bayani Nur Azmani, S.Si., M.Si

Beeri Wopari, M.Kes., selaku Plt. Dinas Kesehatan Provinsi Papua, yang turut berperan sejak tahap perancangan penelitian serta mendukung penuh kelancaran pelaksanaan kegiatan ini di lapangan, yang kemudian juga mendapat sambutan positif dari Kepala UPT Malaria, Bapak Silas Mabui, SKM, M.Kes., yang menilai bahwa kegiatan ini memiliki peran strategis karena mampu mengintegrasikan kekuatan ilmu pengetahuan dari institusi akademik dengan pengalaman lapangan tenaga kesehatan di Papua. “Kegiatan ini penting karena menggabungkan kekuatan ilmu pengetahuan dari kampus dengan pengalaman lapangan tenaga kesehatan di Papua,” ujarnya. Ia menegaskan, “Hasil penelitian tidak boleh berhenti di ruang laboratorium; harus diterjemahkan menjadi program nyata yang berkelanjutan, dan kami di UPT Malaria siap melanjutkan kolaborasi dengan ITB dalam berbagai kegiatan terkait.”

Di lapangan pada tanggal 9-18 Maret 2026, pengambilan sampel dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Arso Kota dan Puskesmas Ywan, Kabupaten Keerom yang telah dilatih, didampingi tim peneliti ITB. Pasien malaria yang datang ke fasilitas kesehatan menjalani pemeriksaan klinis, penjelasan mengenai penelitian, dan pengambilan darah, sekaligus tetap mendapatkan terapi sesuai standar. Keberjalanan proses ini juga tidak terlepas dari bantuan Puskesmas pembantu (Pustu) dan Posyandu Sawiyatami dan sekitarnya serta bantuan dari kader puskesmas yang juga membantu proses skrining ke masyarakat langsung. Tim juga menyalurkan paket dukungan seperti bahan pangan dan kebutuhan dasar sebagai wujud kepedulian terhadap pasien dan keluarga.

Pengambilan sampel di Puskesmas Arso Kota oleh petugas kesehatan. Dokumentasi : Bayani Nur Azmani, S.Si., M.Si.

Perwakilan tim ITB, Dr.rer.nat. I Dewa M. Kresna, dan Antonius Christianto, S.Si., M.Sc., D.Sc., menekankan pentingnya data yang dihasilkan. “Analisis mendalam sel-sel imun pasien Papua akan memberikan data yang sangat berharga bagi upaya pemberantasan malaria,” ungkap Dr.rer.nat. I Dewa M. Kresna. “Kami berharap peta imunologis yang dihasilkan dapat menjelaskan variasi respons penyakit antar individu dan menjadi dasar kebijakan serta intervensi yang lebih tepat sasaran di Papua. Kontribusi utama penelitian ini adalah pengetahuan dan data yang bisa langsung dimanfaatkan pemerintah daerah dan tenaga kesehatan.” tambah Antonius Christianto, S.Si., M.Sc., D.Sc..

Lebih dari sekadar pemetaan sistem imun, penelitian ini dirancang sebagai landasan ilmiah bagi pengembangan solusi yang komprehensif dalam penanganan malaria sebagai penyakit endemik. Melalui pendekatan yang terintegrasi, riset ini tidak hanya berfokus pada penemuan ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk mendukung implementasi teknis di lapangan, mulai dari edukasi kesehatan, peningkatan kepatuhan pengobatan, perbaikan faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap penyebaran malaria, hingga penguatan intervensi berbasis komunitas guna memutus rantai penularan.

Sejalan dengan itu, meskipun kegiatan saat ini berfokus pada pemetaan sistem imun dengan teknologi baru, rangkaian riset ini sekaligus menjadi tahapan penting dalam persiapan program pengabdian kepada masyarakat (pengmas) yang lebih luas. Nantinya, ITB bersama Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom merencanakan pengmas terintegrasi yang menitikberatkan pada pencegahan dan penanggulangan komplikasi AIDS, TBC, dan malaria di tingkat layanan primer, dengan memanfaatkan temuan scRNA?seq sebagai dasar perancangan edukasi, skrining dini, dan strategi pencegahan.

Keterlibatan Puskesmas Arso Kota, Kabupaten Keerom dalam mendukung rangkaian penelitian Dokumentasi : Bayani Nur Azmani, S.Si., M.Si.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, puskesmas, dan posyandu ini diharapkan menjadi model penguatan sistem kesehatan berbasis bukti di Papua, sehingga inovasi teknologi tidak hanya berakhir sebagai publikasi, tetapi memberi dampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat Keerom dan wilayah Papua lainnya. (Antonius Christianto dan Bayani Nur Azmani)

 

 

 

 


Share :