Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tinjau Penanganan Korban Dugaan Keracunan Makanan di RSUD Youwari
Jayapura, 5 Agustus 2026 – Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Berri Wopari, melakukan peninjauan langsung terhadap penanganan korban dugaan keracunan makanan massal yang dirujuk dari Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, ke RSUD Youwari, Rabu (5/8/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan setelah Pemerintah Provinsi Papua menerima laporan pada malam sebelumnya mengenai banyaknya warga, terutama anak-anak sekolah, yang mengalami gejala dugaan keracunan makanan. Peninjauan bertujuan memastikan pelayanan kesehatan berjalan optimal sekaligus mengevaluasi kebutuhan penanganan lanjutan di lapangan.
Dr. Berri Wopari menyampaikan bahwa secara umum pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan di RSUD Youwari berjalan dengan baik. Menurutnya, sejak malam hari para pasien langsung mendapatkan penanganan berupa resusitasi cairan serta terapi medis sesuai kondisi masing-masing.

"Puji Tuhan, kondisi pasien saat ini jauh lebih baik dibandingkan hari pertama. Beberapa anak sudah memasuki tahap pemulihan dan bahkan sudah diperbolehkan pulang," ujarnya.
Ia mengapresiasi kerja sama lintas sektor dalam penanganan kejadian tersebut. Dukungan dari tenaga kesehatan RSUD Youwari, TNI, Polri, Pemerintah Kabupaten Jayapura, Pemerintah Provinsi Papua, serta berbagai instansi terkait dinilai sangat membantu percepatan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Meski demikian, ia menilai masih diperlukan penguatan pelayanan kesehatan, terutama dari sisi tenaga medis, ketersediaan obat-obatan, cairan infus, serta kebutuhan penunjang lainnya agar pelayanan dapat terus berjalan secara maksimal.
Terkait jumlah korban, dr. Berri menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat menyampaikan data resmi karena seluruh pendataan berada di bawah koordinasi Command Center atau Posko Kesehatan yang dibentuk oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura bersama Pemerintah Kabupaten Jayapura.
"Yang kami ketahui saat ini, sekitar 65 pasien rujukan dari Distrik Depapre telah diterima di RSUD Youwari sejak malam sebelumnya. Namun, data keseluruhan korban yang dirawat di rumah sakit lain maupun puskesmas masih dalam proses rekapitulasi oleh Command Center sehingga belum dapat diumumkan secara resmi," jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan di ruang perawatan maupun tenda pelayanan kesehatan, sebagian besar pasien mengalami dehidrasi ringan hingga sedang akibat diare dan muntah. Kondisi tersebut dinilai masih dapat ditangani dengan pemberian cairan, antibiotik sesuai indikasi medis, serta pengobatan suportif lainnya.
Ia menegaskan, hingga saat ini belum ditemukan pasien yang mengalami dehidrasi berat atau syok, sehingga prognosis pasien secara umum cukup baik apabila terapi terus diberikan secara optimal.
Mengenai penyebab kejadian, dr. Berri mengatakan bahwa saat ini diagnosis masih berdasarkan gambaran klinis dan pola kejadian yang menimpa banyak korban dalam kelompok yang sama setelah mengonsumsi makanan secara bersamaan.
"Secara klinis kasus ini mengarah pada dugaan keracunan makanan. Namun untuk memastikan penyebab pastinya, harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang sedang dilakukan," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan diri selama proses perawatan pasien. Menurutnya, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan maupun setelah merawat pasien, menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran infeksi saluran pencernaan.
Selain penanganan medis, Pemerintah Provinsi Papua bersama Pemerintah Kabupaten Jayapura terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk melakukan investigasi epidemiologi, pengawasan kesehatan masyarakat, serta memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal hingga seluruh pasien dinyatakan pulih.
Sementara itu, terkait dugaan keterkaitan kejadian ini dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dr. Berri menjelaskan bahwa investigasi lebih lanjut akan dilakukan oleh instansi yang berwenang sesuai mekanisme yang berlaku. Dinas Kesehatan bersama fasilitas pelayanan kesehatan saat ini memprioritaskan penanganan korban dan pemulihan kondisi kesehatan masyarakat.
"Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh pasien mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik. Untuk penyebab pasti keracunan, kita masih menunggu hasil investigasi laboratorium sehingga masyarakat diharapkan tidak berspekulasi sebelum hasil resmi diumumkan," tutup dr. Berri Wopari. (Naso)